Pameran Lukis Prestasi Karya Anak Muda

PRESTASI KARYA ANAK MUDA

Catatan Kuratorial Pameran Seni Lukis Hasil Lomba Museum Basoeki Abdullah

2018-2020 

Oleh : Pug Warudju

 

Yen wong anom pan wus tamtu, manut marang kang ngadhepi, yen kang ngadhep akeh bangsat, nora wurung bisa anjuti, yen kang ngadhep keh durjana, nora wurung bisa maling. (Pakubuwana IV, Wulangreh, Kinanthi Pupuh 05).

Karakter kaum muda itu selayak sudah dipastikan akan dapat terbentuk oleh situasi lingkungan yang dihadapi. Bila banyak menghadapi (bergaul) dengan para penjahat, maka mereka akan mudah mengikuti jejaknya,  apabila bergaul dengan para pendosa, maka tidak urung  merekapun bisa menjadi durjana. 

 

Siapapun tak akan mangkir bahwa pemilik masa depan adalah mereka kaum muda. Karena pada pundak dan jiwa mereka, masa depan akan dapat diberlangsungkan.  Maka kaum muda itu  harus selalu dipersiapkan dan dikawal dalam pembentukan karakter kepribadiannya, agar tetap ideal sebagai pemangku masa depan dengan penuh integritas jati diri  yang utuh, penuh jiwa kepimpinan yang  cinta kasih, teguh dalam budi pekerti (etika) dan juga selalu menegakkan keadilan (Mangkunegara IV, Dhandanggula).  

Dua literasi kuno itu sengaja saya ajukan sebagai pengingat kembali bahwa para leluhur kita sudah jauh hari mempersiapkan  pembentukan karakter  untuk kaum muda dengan menyusun tembang dalam berbagai varian format, bahkan disesuaikan dengan filosofi dari struktur tembang.  Diskursus kaum muda dalam literasi kaum intelektual kuno itu (para raja dan bangsawan tinggi), telah direkonstruksi dan didokumentasikan ke dalam tembang-tembang  yang merujuk kepada posisi (fase) eksistensial  manusia, dari  sejak lahir (mijil), sinom (para muda), kinanthi (beriringan/dikawal ataupun dikenal pula sebagai masa penantian menuju dewasa yang sesungguhnya) dan juga dhandhanggula (fase penuh manisnya kehidupan, mengenal cinta asmara dan mahligai pernikahan).

Dalam serat wulangreh, pembentukan karakter kaum muda banyak dilansir ke dalam berbagai pupuh tembang kinanthi, yang dimaksudkan sebagai media mengawal kepribadian  lewat pitutur luhur–Wulangreh (ajaran pengelolaan diri untuk menjadi sesuatu – to be).

Kita bangsa yang sudah memasuki era yang sangat luar biasa mutakhir, kita   memiliki generasi muda yang rata-rata makin meningkat standar kecerdasan rasionalnya (IQ). Namun banyak sinyalemen emphiris, belum berhasil menunjukkan keseimbangan standar kecerdasan afeksi /emosionalnya (EQ).  Dan hal itu juga sudah diisyaratkan oleh Sinuhun Pakubuwana ke 4 juga dalam pupuh 8 kinanthi : Yen wong anom-anom iku, kang kanggo ing masa iki, andhap asor kang den simpar, umbar gumunggunging dhiri, obral umuk kang den gulang, kumenthus lawan kumaki. (Para muda di masa sekarang meni-nggalkan sopan santun dan rendah hati, sebaliknya mengumbar kesombongan dan tinggi hati).

Bila kondisi yang paling fondamental ini gagal, maka betapa sangat malu terhadap para leluhur kita, yang di tengah keadaan fasilitas pendidikan  masih sangat terbatas, tetapi sudah mewariskan filsafat yang mendalam dan memegang tata cara pengelolaan kaum muda dengan sangat elok.

Persoalannya bukan lantaran sekedar malu, tapi resiko yang sangat besar dan bahaya yakni  rusak binasalah nilai-nilai luhur bangsa, dan kehiduan masa depan tidak bisa memenuhi harapan menjadi negeri tetap subur makmur aman tentram adil dan damai sejahtera. Bila tidak terpenuhi jiwa dasar itu, artinya adalah petaka.

Ruang kawalan (edukasi), kesempatan, berbagai bentuk dan media untuk berekspresi serta berprestasi bagi kaum muda, benar-benar  menjadi faktor yang harus tersedia baik kuantitatif maupun kualitatif. Dalam kepustakaan pendidikan berwatak Indonesia ala Taman Siswa yang dirintis oleh Ki Hajar Dewantara yang juga seorang Pangeran dari Kerabat Pakualaman, sangat kental dan akomodatif terhadap saluran pendidikan ekspresi dalam berbagai bentuk: baik itu seni, olah raga maupun ketrampilan simulatif  lainnya, yang kesemuanya bermuatan sangat mendasar bagi pembekalan karakteristik peserta didik terhadap pribadi dasar ke Indonesiaannya. 

Kementrian Pendidikan Kebudayaan kita, alhasil belakangan ini menetapkan kebijakan Pendidikan Berkarakter,  adalah harapan yang sangat menggembirakan.  Namun itu harus tetap dijaga atau dikawal secara ketat dalam praksisnya (praktik dan analisis) yang kontinum oleh jajaran penyelenggara Pendidikan di berbagai lini maupun bentuk kelembagaan di bawahnya,  pun lagi partisipasi masyarakat tidak boleh tertinggal.  Kita tidak  boleh pula lupa bahwa arus deras keadaan global suka tidak suka mendera  dengan watak dasarnya yang sangat profan, elitis (kapitalis) serta  sangat begitu pragmatis, sehingga sedikit banyak perlahan menggeser  nilai-nilai budi pekerti, dan kebudayaan yang berasaskan  pada nilai-nilai etik, estetik serta moralistik. Hendaknya kita jangan sampai abai akan hal itu.

Sekali lagi pengawalan terhadap kaum muda demi persiapan (pembekalan)  serta laku preventif  harus selalu dilaksanakan dengan berbagai langkah yang strategis (taktis) dan kreatif.  Merujuk pada pokok pikiran mendasar itu, tampaknya pengelola Museum Basoeki Abdulah telah menanggapi serta melakukan pendekatan praktikal yang layak dihormati dan dihargai. Penyelenggaraan lomba Seni Lukis pada Tingkat Pelajar mulai Sekolah Dasar sampai Menengah dan Lanjutan telah diselenggarakan dengan intensif dan kontinum. Penyelenggaraan dua tahun terakhir sejak 2018 hingga 2020, telah menuai hasilnya. Banyak siswa sekolah menjadi peserta,  dan tentu di antaranya tercatat meraih prestasi yang membagggakan. 

Sebagai tindak lanjut dalam upaya menjaga semangat, mengembangkan motivasi serta memicu prestasi serta menjaga tetap tertautnya para muda dalam kancah pembentukan karakter bangsa melalui karya ekspresi (seni) dan juga pengalaman mental  yang mendidik, menjadi dapat ditinjau kembali melalui kegiatan pameran bertajuk: 

“Prestasi Karya Anak Muda”. Yaitu sebuah kegiatan pameran daring dan luring yang diselenggarakan oleh pihak Museum Basoeki Abdullah pada 16 Februari 2021-sampai dengan 5 Maret 2021.

Yang dipamerkan adalah karya–karya terpilih dari kegiatan lomba sejak tahun 2018-2020, sejumlah sekitar 45 buah. Diciptakan oleh peserta peringkat SD sampai SLTA, dengan kisaran usia 6 sampai dengan 17 tahun. Dan karya-karya yang ditampilkan layak dipandang sebagai ujud dari langkah edukasi yang cukup berhasil.

Setiap kegiatan lomba seni lukis yang diselenggarakan di masa dua tahun itu  diberikan tema yang menuntun visualisasi kekaryaan masing-masing peserta lomba. Ada yang bertemakan dunia sejarah kepahlawanan yang mengerucut kepada topik perjuangan para pionir  emansipasi (kesamaan gender), tentang cerita epik kepahlawanan daerah, misal kisah Si Pitung, cerita-cerita  heroisme dalam pewayangan, tokoh Gatutkaca dan juga para Panakawan, misalnya. Ada juga yang dibingkai oleh tema pendidikan dengan merujuk keteladanan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia Ki Hajar Dewantara. Juga tema-tema kebahagian kebersamaan bangsa Indonesia, kepedulian sosial yang menepis unsur negasi-negasi seperti misalnya rasialisme, deskriminasi dan seterusnya. 

Dari segi estetika artistik, para muda ini banyak mencurahkan pengalaman artistiknya pada medium kertas dan aquarel (akrilik,  dan cat air), pensil warna, kapur pastel, juga percampuran beragam alat dan bahan (mix media). Bila menggunakan kanvas, mereka menggunakan cat akrilik. Pendekatan visualnya sejalan dengan pengalaman teknisnya yang masih banyak membutuhkan tempaan  dan pengalaman, masih berkecenderungan stereotipe oleh pengaruh barangkali coachnya, lingkungan sesama sanggar, sekolah ataupun mungkin juga oleh trend dari referensi virtual yang  diperolehnya.

Misalnya  ada kecondongan berdekatan dengan gambar grafis komikal (kartun), manga dan juga bertabiat ungkap secara  ilustratif seperti menyusun sinopsis fragmentik. Kendatipun ada juga yang sudah mulai memahami apa yang dimaksud ekspresi visual artistik dengan lugas tanpa ragu.  Tabiat stereotipe itu memang masih merupakan perihal yang wajar di samping lantaran fase kinerja sensor motoriknya, tetapi juga lebih didorong oleh kepungan idiomatik visual yang menerpa secara dominan dari penjuru informasi global.

Tetapi demikian, orisinalitas mereka masih dapat disimak dari kejujuran  membangun  anatomi  obyek dengan tarikan garis yang apa adanya, tanpa ragu tidak takut dibilang jelek, demikian dalam membagi bidang, serta membalurkan warna-warna. Dan mungkin itulah kelebihan anak-anak dan remaja sekarang, berani tampil sesuai hatinya, memiliki kovidensi yang tinggi. Walau untuk pengembangan selanjutnya tentu tetap membutuhkan binaan dan arahan serta bimbingan teknis yang sistemik -proporsional.

Otentisitas dalam kekaryaan mereka selebihnya justru menguat pada aspek perburuan terhadap narasi (konteks). Cukup mengagetkan pula,  pada usia yang muda dengan stimulans tematik,  mereka  ternyata cendekia dalam mencoba menggali makna-makna dari sumber-sumber tematikalnya. Fantasinya mengembang luas,  sehingga mampu menghadirkan fragmen-fragmen visual  yang bernas dan menggelitik kesuburan akan makna dan nilai.  Karya mereka paling tidak mampu merefleksikan tentang mulai ada kepekaan dan penghayatan serta penafsiran yang memadai terhadap realitas dan nilai-nilai ideal yang berkelindan di sekitar mereka. Dan itu merupakan bukti keberhasilan penanaman modal kepribadian sebagai warga masa depan dapat lebih terjamin (memungkinkan)  tercapai. Semuanya berpulang kepada infrastruktur serta supra struktur yang mengawali mereka sebagaimana tembang 

Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara

(ilmu/materi pengajaran itu agar bisa dipahami dan dihayati, maka harus ditempuh dengan jalan praktik /mengamalkannya, dengan  niat  membentuk karakteristik, agar mampu memperkuat jati diri, sehingga setia menegakkan budi pekerti demi memberangus watak jahat maupun perilaku buruk).  Aamiin.

Selamat berpameran dan menyaksikan serta berapresiasi.

 

          Jakarta, Februari 2021

          Pug Warudju

          Kurator dan dosen seni rupa di Universitas Indraprasta Jakarta