Ruang Publik: Menceritakan Mitos dan Legenda Indonesia Melalui Batik


LOKASI : Museum Basoeki Abdullah, Jl.Keuangan Raya No.19 Jakarta Selatan
STATUS KEGIATAN : Finished

Batik adalah warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia yang wajib kita jaga dan lestarikan sebagai salah satu jati diri bangsa Indonesia. Batik telah diakui sebagai salah satu warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi  (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO sejak tanggal 2 Oktober tahun 2009, maka batik telah diakui dunia sebagai milik Indonesia.

Kerajinan batik adalah salah satu identitas dan kebanggaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, sebagai pemilik identitas tersebut sudah seharusnya masyarakat mengetahui seluk beluk dari kerajinan batik itu sendiri sebagai perwujudan konkrit dari usaha pelestarian batik adalah dengan belajar dan memahami kebudayaan membatik. Dalam perkembangannya, teknik dan materi membatik berkembang. Salah satu teknik membatik diperkenalkan dan dikembangkan oleh perupa dari Komunitas 22 Ibu, yakni teknik membatik dengan lilin dingin, yakni menggunakan bubur biji asam jawa sebagai perintang warna.

Pada 27 Juli hingga 4 Agustus 2018, Komunitas 22 Ibu berkesempatan berpameran di Museum Basoeki Abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan, dengan nama Pameran Narasi Mitos dan Legenda Indonesia Dalam Batik Lilin Dingin. Karya yang akan dipamerkan adalah lukisan dengan tehnik Batik Lilin dingin. Merujuk kepada lokasi pameran yang mengambil tempat di Museum Basoeki Abdullah, maka tema pameran yang diambil adalah salah satu jenis atau kategori dari lukisan-lukisan Basoeki Abdullah, yaitu Drama, Mitos, dan Spiritual.

Pemilihan kategori diatas bermaksud menggambarkan pemikiran Basoeki Abdullah yang penuh dengan sikap-sikap religius, serta spirit lokal dengan pembawaan yang romantis. Dalam kategori ini sejumlah tema dapat dimasukan, seperti cerita pewayangan, dunia religi, cerita rakyat, dunia mitos, maupun hal-hal yang terkait dengan tema-tema yang bersifat naratif, seperti karya lukisan Nyi Roro Kidul, Jaka Tarub, Dewi Sri, dan lainnya. Kategori ini menandai rangkaian pemikiran Basoeki Abdullah yang tak bisa lepas dari peran sosialnya sebagai anggota masyarakat.

Dalam sambutannya di acara peresmian pameran, Kepala Museum Basoeki Abdullah, Maeva Salmah mengucapkan selamat datang di museum, kepada para tamu undangan dan masyarakat yang hadi, khususnya para perupa. Pada kesempatan tersebut Maeva Salmah sekaligus menyebutkan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan ruang publik untuk berpameran maupun menyelenggarakan lokakarya, seperti halnya pada kegiatan hari ini.

Basoeki Abdullah merupakan salah satu pelukis maestro yang dimiliki Indonesia, dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Karya-karyanya menghiasi istana negara dan kepresidenan Indonesia, karyanya juga koleksi oleh para kolektor dari berbagai penjuru dunia. Basoeki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara, yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, Basoeki Abdullah pun diketahui gemar melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.

Kegiatan ini diadakan bertujuan untuk semakin memperkenalkan tehnik Batik lilin dingin kepada masyarakat. Ketua Pelaksana acara ini Ayoeningsih Dyah Woelandhary, dosen dari Universitas Paramadina, menegaskan bahwa kegiatan ini disisi lain juga untuk mengenang dan menghormati hasil karya salah satu maestro lukis Indonesia yang luar biasa. Karya batik yang akan dipamerkan adalah karya 44 perupa dari Komunitas 22 Ibu yang berdomisili di Bandung dan Jakarta, yang terdiri dari Perempuan Pendidik Seni Indonesia, serta Guru dan Dosen lain dari Lintas PT di Indonesia.

Pada sambutannya, kurator, Dr. Nuning Damayanti., Dipl.Art, dosen dari Fakultas Seni Rupa ITB, menyebutkan bahwa saat proses persiapan pameran dirinya telah menetapkan 10 cerita dari Indonesia yang mengusung moral dan kebaikan bagi pembentukan karakter generasi bangsa. Adapun 10 cerita tersebut terdiri atas 5 cerita mitos dan 5 cerita legenda. Oleh karena itu setiap 1 cerita digarap olahan visualnya oleh 5 perempuan perupa berdasarkan urutan cerita, dan merepresentasikan narasi visualnya di atas wastra berukuran 40 cm x 115-120 cm.

“Yang patut diapresiasi disini adalah para perupa ini adalah merupakan Ibu (perempuan) Indonesia yang merupakan aset berharga bagi bangsa. “Seperti para perupa dalam pameran ini, yang bukan hanya perupa, tapi juga pendidik, hingga merupakan ibu yg mengurus keluarganya di rumah,” imbuh Nuning Damayanti.

Pameran Cerita dan Mitos Indonesia Dalam Batik Lilin Dingin juga bertujuan untuk mengangkat karya seni rupa yang digagas dari cerita mitos dan legenda dari Indonesia yang berisi pesan moral dan kebaikan. Terlebih lagi generasi muda sekarang ini dapat dikatakan terasing dari cerita dan legenda tersebut. Melalui pameran ini para generasi muda diharapkan dapat mengenal kembali sekaligus melestarikan kekayaan sastra Indonesia tersebut.

Sedangkan pada sambutannya, Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengutarakan bahwa budaya adalah suatu hal yang harus senantiasa berkembang. Bukan bagian jadi sejarah, dan ada inovasi-inovasi dalam pengembangannya. “Seperti halnya pada pameran ini yang mengembangkan batik lebih dari sekadar kain maupun pakaian, dalam statusnya sebagai khazanah budaya Indonesia,” imbuhnya.

“Senang melihat gambar perencanaan pembangunan gedung II Museum Basoeki Abdullah yang dulu saya perhatikan dan awasi proses pengerjaannya selama menjabat sebagai Mendikbud kini telah terwujud. Semoga ruang publik dan museum ini dapat diapresiasi sepenuhnya oleh masyarakat,” tutup Anies Baswedan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengguntingan pita oleh Gubernur Anies Baswedan, yang didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Sri Hartini, yang menandakan bahwa pameran tersebut telah resmi dibuka. Selanjutnya Anies Baswedan dan Sri Hartini didampingi oleh Kepala Museum dan Kurator, meninjau lokasi pameran.

Pada kesempatan yang sama Sesditjen Kebudayaan, Sri Hartini, mengutarakan bahwa Ruang Publik inilah yang diharapkan dapat menjadi ekosistem awal para perupa dalam dunia seni rupa, dan bahkan dalam ruang lingkup kebudayaan secara luas. Selanjutnya beliau menyebutkan jika dibukanya area publik di Museum Basoeki Abdullah, dapat menjadi salah satu fondasi awal untuk pembentukan ekosistem kebudayaan yang representatif.

Pameran ini merupakan salah satu pameran kerjasama Museum Basoeki Abdullah yang diselenggarakan dengan komunitas-komunitas di Museum Basoeki Abdullah. Pada tahun ini Museum Basoeki Abdullah membuka diri lebih luas kepada masyarakat dalam bentuk dibukanya ruang publik di area Gedung II. Masyarakat khususnya generasi muda dapat memanfaatkan area tersebut untuk berpameran maupun menyelenggarakan lokakarya. Dibukanya ruang untuk publik ini merupakan bentuk dari kehadiran negara secara langsung ke tengah-tengah masyarakat, khususnya dalam bidang seni rupa.



Foto Kegiatan