Rupantara: Merayakan Kemerdekaan dengan Meneropong Indonesia 2045


LOKASI : Museum Basoeki Abdullah, Jl.Keuangan Raya No.19 Jakarta Selatan
STATUS KEGIATAN : Finished

Apa yang Anda bayangkan tentang Indonesia 2045? Museum Basoeki Abdullah akan membawa Anda ke lorong waktu bahasa gambar menuju masa depan. Merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia dengan kemerdekaan berpikir mengenai harapan untuk Indonesia 2045.

 

Pameran Karya “Rupantara: Reka Rupa Nusantara” 2045 digelar pada 15-24 Agustus 2019 membawa Anda menuju rekaman sejarah Indonesia sejak merintis Nusantara hingga melaju menuju Indonesia 2045. Setelah melalui perjuangan panjang merebut kemerdekaan, Komunitas Graphic Recorder Indonesia (GRID) mengajak Anda merenungkan kembali perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pameran Karya Rupantara menjadi tempat Anda mencurahkan impian Indonesia 2045 melalui kebebasan berekspresi seni.

 

Berdasarkan dokumen Indonesia 2045 dari Kementerian PPN/ Bappenas, Indonesia merumuskan Visi Indonesia 2045 Berdaulat, Maju, Adil dan Makmur. Presiden Joko Widodo menggagas “Impian Indonesia 2015-2085”, yaitu: (1) Sumber daya manusia Indonesia yang kecerdasannya mengungguli bangsa- bangsa lain di dunia, (2) Masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi pluralisme, berbudaya, religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika, (3) Indonesia menjadi pusat pendidikan, teknologi dan peradaban dunia, (4) Masyarakat dan aparatur Pemerintah yang bebas dari perilaku korupsi, (5) Terbangunnya infrastruktur yang merata di seluruh Indonesia, (6) Indonesia menjadi negara yang mandiri dan negara yang paling berpengaruh di Asia Pasifik, (7) Indonesia menjadi barometer pertumbuhan ekonomi dunia.

 

Dalam mewujudkan impian tersebut disusun Visi Indonesia Tahun 2045 dengan

4 (empat) pilar, yaitu: (1) Pembangunan Manusia serta Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, (2) Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, (3) Pemerataan Pembangunan, serta (4) Pemantapan Ketahanan Nasional dan Tata Kelola Kepemerintahan. Keempat pilar tersebut menjadi landasan untuk membagi sub-tema pameran menjadi empat area gambar. Keseluruhan graphic recording merupakan karya kolaborasi dari 27 graphic recorder dengan beragam latar dari seni rupa hingga antropolog digital, baik pemula hingga profesional.  

 

Menelusuri Akar Graphic Recording

Apakah sejatinya “Rupantara”? Komunitas Graphic Recorder Indonesia (GRID) memperkenalkan Graphic Recording di Indonesia sebagai satu cara penggunaan visual dalam sebuah proses pertemuan. Pada dasarnya sama dengan membuat catatan. Bedanya, catatan yang berupa tulisan ditambahkan dengan banyak gambar untuk membantu lebih memahami isi dan substansi pertemuan tersebut.

 

Graphic recording telah dikenal di dunia sebagai bagian dari seni visual terapan dengan teknik fasilitasi visual. Heidi Hautopp dan Rikke Ørngreen (2018) pada artikel A Review of Graphic Facilitation in Organizational and Educational Contexts pada jurnal Designs for Learning menceritakan sejarah graphic recording yang diinisiasi David Sibbet dan Geoff Ball pada 1970-an dengan menggunakan grafis untuk membantu fasilitasi kelompok dalam organisasi.

 

Hautopp dan Ørngreen melakukan kajian mengenai graphic recording karena melihat minimnya publikasi dan riset mengenai proses grafis ini. Mereka menjelaskan metode graphic recording terinspirasi dari cara desainer dan arsitek menggunakan visualisasi dan sketsa untuk menerjemahkan keinginan klien.

 

Basis graphic facilitation (fasilitasi grafis) yang lanjut berkembang di Denmark dan wilayah Skandinavia melandaskan pada teori visual thinking atau berpikir visual (Horn, 1998; Hyerle, 2009) dan sistem praktik fasilitasi. Van der Lugt (2000) menjelaskan fasilitasi grafis berguna untuk proses brainstorm tim desain dipandu fasilitator grafis yang merumuskan memori kolektif grafis dari para desainer yang berdiskusi.       

 

Menurut Imagethink.net, seni paduan bahasa gambar dan narasi berpikir ini dikreasikan dengan menerjemahkan langsung percakapan dan presentasi. Para pelakunya, graphic recorder melakukan tiga aktivitas secara simultan: mendengarkan ide kunci, mensintesis, dan mendokumentasikan dalam bentuk gambar. Graphic Recorder berperan dalam mengurai tema, masalah yang kompleks, dan mengubah ide menjadi aksi.

 

Komponen fasilitasi grafis menggunakan teknik menggambar analog dengan fasilitator yang melibatkan partisipasi peserta. Menggambar dengan manual juga menyalurkan proses berpikir secara langsung yang dialami fasilitator grafis dalam mensintesa percakapan atau narasi pembicara.  

 

Bagaimana penerapannya dalam konteks Indonesia? Deni Rodendo, pendiri Komunitas GRID yang membawa graphic recording sebagai cara membaca melalui bahasa gambar.  Langkah Deni berawal dari menjawab tantangan fasilitasi visual untuk memantik diskusi lanjutan setelah menyimak presentasi pembicara.

 

“Awalnya dulu karena sering membantu Lembaga Training Inspirit, dan saat hadir di ruangan trainingnya nyoba bikin sketsa wajah peserta, sketsa suasana, hingga ditantang untuk merekam kontennya. Dari coba-coba kemudian keterusan dan jadi pekerjaan,” cetus Deni.

 

Deni mengembangkan karirnya di sektor pembangunan dengan memfasilitasi diskusi LSM hingga pemerintah. Bahkan, berkembang dalam bentuk video graphic recorder yang menjadi proses komunikasi publik dan sosialisasi program organisasi nirlaba hingga Kementerian.

Puncaknya, pada forum internasional Indonesia Development Forum 2019 yang digagas Bappenas. Graphic recording menyarikan 41 sesi diskusi yang berlangsung paralel dari tokoh lokal dan internasional. Bahkan, menjadi visual untuk paparan Menteri PPN/ Bappenas, Bambang Brodjonegoro.   

 

Membumikan Graphic Recording untuk Indonesia

Keunikan profesi ini memiliki tantangan sendiri karena masih belum dipahami peran pembedanya. Untuk kategorisasi dalam seni rupa, Deni Rodendo yang menekuni profesi graphic recorder sejak 2005 dan lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung pun masih perlu berdiskusi dengan pakar seni rupa.

 

Deni menilai secara keilmuan mungkin dunia ini dekat dengan Desain Grafis. Ada teknik-teknik yang digunakan seperti ilustrasi, komik, tipografi, dan lettering. Irisan ke berbagai bidang ini membuat graphic recorder pun Bahkan, ketika Harian Kompas meliput tentang graphic recorder pun dilabeli “kartunis”. 

 

Graphic Recorder menuntut kemampuan untuk menyimak dan pada saat bersamaan mencoba menyarikan untuk dibuat visualisasinya. Ada tantangan waktu dan substansi. Sedangkan kartunis mungkin lebih luas, membuat segala sesuatu menjadi visual kartun sangat identik dengan kesan ‘lucu’ dan tidak berdasar hasil rekaman,” urai Deni.

 

Graphic recorder GRID yang mengikuti jejak Deni, Agah Nugraha pun menyebutkan bidang ini belum banyak dikaji secara akademis. Menurut Agah, kajian teori yang dianggap mendekati graphic recording baru sebatas sejarah senirupa, live sketching dari pelukis barbizon Perancis abad ke-18. Atau sketsa zaman revolusi fisik, seperti pelukis Affandi, Sudjojono, dan Trubus Soedarsono.

 

Selaku Ketua Pameran Rupantara, Agah Nugraha menilai pameran ini sebagai langkah menciptakan momen untuk menggaungkan graphic recording di Indonesia.

 

“Gunanya momen biar ada perasaan bareng-bareng, frekuensi yang sama. Juga memfasilitasi fungsi komunitas yang komunal: saling mengangkat teman, mengapresiasi, kerjasama, saling berbagi jaringan atau link. Terdengar naif sih, tapi worth it diusahakan, apalagi di zaman now,” papar Agah yang kali pertama mengenal graphic recorder pada 2013.

 

Komunitas GRID merumuskan graphic recording yang mengemuka di skala global dalam istilah bahasa Indonesia: “Rupantara”. Diambil dari bahasa Marathi, bahasa Indo-Eropa yang memiliki penutur di Maharashtra, India. Berkembang dari bentuk awal Prakit, bagian dari bahasa Sansekerta yang menjadi salah satu bahasa terkuno di peradaban dunia yang digunakan di Indonesia ketika zaman Nusantara.

 

Kata “Rupantara” memiliki makna “transformasi”, “metamorfosis”, hingga “perubahan bentuk”. Kata ini dinilai Komunitas GRID mewakili napas graphic recorder dalam menerjemahkan wacana menjadi bentuk visual yang mencerahkan pemikiran. Harapannya, kata “Rupantara” dapat bersanding dengan graphic recording untuk menyerap istilah ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.  

 

Setelah berkarya selama 14 tahun, Deni Rodendo pun menilai Pameran Rupantara dapat menjadi langkah mengenalkan graphic recording lebih luas. Bahkan, memetakan posisi graphic recording dalam dunia seni rupa atau seni secara luas.

 

“Tapi, dari sisi komunitas (GRID) saat ini sudah banyak teman lebih dari 20-an orang, maka kita butuh untuk saling berbagi pengalaman, berbagi teknik. Dan cara yang paling efektif untuk saling bertukar itu adalah dengan pameran bersama. Sedangkan, buku dibuat agar umurnya lebih panjang dari pameran,” urai Deni.

 

Tidak berhenti dengan pameran, perluasan rupantara akan hadir dalam buku grafis yang mengisahkan keunikan Indonesia dari berbagai daerah. Hasil dari perjalanan graphic recorder menemukan kisah inspiratif dari kota hingga pelosok. Dari kisah perdukunan hingga penanggulangan bencana.

 

Komunitas GRID yang semakin tumbuh ini pun melahirkan Srikandi Rupantara, graphic recorder perempuan dengan berbagai latar keilmuan. Dari profesi seni hingga aktivis lingkungan. Rina Kusuma, penggiat lingkungan hidup.

 

"Selama ini di Indonesia, graphic recorder didominasi oleh laki-laki. Ternyata perempuan bisa juga berkarya melalui graphic recording. Style perempuan yang lebih feminis dan dinamis, memberi nuansa dan keragaman yang menarik dalam karya graphic recording," urai Rina.

 

Menurut Rina, membuat graphic recording bisa menumbuhkan kepercayaan diri dan aktualisasi diri pada perempuan. Karena graphic recording mengharuskan pembuatnya bekerja menggunakan otak kanan dan otak kiri secara simultan. Skill ini tidak dimiliki oleh setiap orang, sehingga ada kebanggaan tersendiri bagi graphic recorder perempuan. Selain itu, metode graphic recording juga bisa digunakan dalam proses belajar bersama anak-anak.

 

 buku Rupantara?*

Buku ini adalah buku pertama tentang graphic recording di Indonesia. Disini direkam hal-hal menarik yang ada di masyarakat Indonesia melalui bahasa gambar. Mulai dari filosofi bangunan tradisional, budaya mudik, pendidikan di pulau kecil, hingga dunia mistis yang ada di Kalimantan Selatan. Selain itu juga ada tips dan trik untuk belajar membuat graphic recording bagi pembaca yang tertarik ingin membuat GR.

 

Sebagai Editor buku Rupantara, Rina menjelaskan buku ini sebagai buku pertama tentang graphic recording di Indonesia. Di sini direkam hal-hal menarik yang ada di masyarakat Indonesia.

“Mulai dari filosofi bangunan tradisional, budaya mudik, pendidikan di pulau kecil, hingga dunia mistis yang ada di Kalimantan Selatan. Selain itu juga, ada tips dan trik untuk belajar membuat graphic recording bagi pembaca yang tertarik ingin membuat graphic recording,” tutur Rina yang merupakan alumni Children, Youth, and International Development, Brunel University, Inggris.

 

Dengan kehadiran buku Rupantara, Komunitas GRID berharap dapat menjangkau tur ke berbagai museum dan komunitas literasi di Indonesia. Mari masuk ke dalam perjalanan visual yang memantik Anda untuk bicara dengan berbeda, bicara bahasa gambar!



Foto Kegiatan