Biografi - Basoeki Abdullah "Pelukis Istana Raja"

Orang boleh berbeda pendapat ataupun berbeda aliran, akan tetapi sulit untuk diingkari. Karena dalam kenyataannya betapapun Basoeki Abdullah seringkali dikritik dan disindir sebagai pelukis salon, hiperbolis, dan “Mooi Indie”, tapi dalam realitanya ia jadi impian banyak orang.

Sewaktu ia memenangkan lomba lukis pada penobatan Ratu Juliana tahun 1948, kemudian ia diterima oleh Ratu dan diajak minum teh bersama. Hal mana merupakan kesempatan yang jarang terjadi. Apalagi bagi Basoeki Abdullah sebagai pelukis Indonesia, yang selama 350 tahun dijajah Belanda. Sudah barang tentu peristiwa ini merupakan kenangan manis yang amat membanggakan hati. Siapa menyangka anak Solo yang sering semadi di Parang Tritis cucu Dokter Wahidin Sudirohusodo, putera Raden Abdullah seorang pelukis naturalis, dapat duduk berdampingan dengan seorang Ratu Belanda, sungguh diluar impiannya.

Di satu pihak ia merasa bangga dapat mengalahkan 87 pelukis Eropa untuk melukis Ratu Juliana. Tapi dilain pihak hatinya menderita. Sebab pada tanggal 19 Desember 1948, sekitar 3 bulan sesudah ia menang dan minum teh bersama Ratu Juliana, Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua. Ibukota Yogyakarta diduduki dan para pemimpin kita seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir dan Haji Agus Salim ditawan. Sebagai seorang Indonesia tentu Basoeki Abdullah juga mempunyai rasa nasionalisme. Meskipun ia beristrikan wanita Belanda dan menetap disana. Pasti dalam hati nuraninya terketuk juga rasa kebangsaannya yang dilukai oleh Belanda.

Tahun 1962 Basoeki melangkah maju, ia berangkat ke Muangthai atas ajakan Surathun Nunnag, seorang sahabatnya dan masih keluarga Raja Bhumibol Aduljadej. Semula Raja minta agar ia melukisnya, ternyata hasil lukisannya dinilai baik. Sehingga keluarga Raja Bhumibol Aduljadej dan Ratu Mon Raachawong Sirikit merasa tertarik terhadap hasil lukisan Basoeki Abdullah. Untuk itu Raja mengharapkan, agar Basoeki tetap tinggal di Bangkok, agar sewaktu-waktu mudah dipanggil untuk melukis. Permintaan Raja Muangthai ini diterima, dan ia memperoleh berbagai fasilitas.

Ia diberi rumah di Soi, Ekarmai, Bangkok. Selain itu ia juga diberi studio di Istana Chitralada. Di istana Poporo, pelukis Indonesia Basoeki Abdullah berhasil menempati posisi yang sangat terhormat. Raja Bhumibol Aduljadej berkenan untuk menggantikan sebagian besar lukisan-lukisan yang tergantung di Istana yang sudah ada dan dilukis pelukis lain, untuk ditukar dengan lukisan-lukisan karya Basoeki Abdullah.

Dalam satu minggu, ia hanya kerja di Istana 3 hari, yaitu Senin, Rabu dan Jum’at. Untuk itu ia menurut Nataya memperoleh gaji sekitar 300 sampai 500 US Dolar per bulan, belum lukisan extra.

Patut dicatat disini, lukisan dari King Rama I-VII, adalah karya pelukis Eropa. Adapun satu-satunya pelukis Indonesia adalah Basoeki Abdullah. Ia melukis King Anand Mahidon VIII, Raja Bhumibol Aduljadej dan Ratu Sirikit, Crown Prince Wachilalongkorn, Princess Mother (ibunya Raja). Lukisan-lukisan karya Basoeki Abdullah banyak menghiasi istana Raja, misalnya di Chakli Palace, Chitralada Palace dan Pattina Palace.

Mengingat sumbangan dan karya-karya lukisannya yang berkenan di hati Raja, maka oleh Raja Bhumibol Aduljadej, Basoeki Abdullah dianugerahi Bintang Penghargaan “Poporo”. Selain itu dalam sebuah surat penghargaan dari Istana Raja Muangthai, berbunyi adalah sebagai berikut :

“This document is to confirm that Raden Basoeki Abdullah has been in the service of the royal household of His Majesty the King, during which period his comminssioned to paint the portraits of his Majesty the king, Her Majesty the Queen and the Royal Children as well as another members of the Royal Family. The paintings were accomplished to the satisfaction of Their Majesties, and the Royal portrait now stand in the Chakri Half in the Grand palace”.

Demikian surat penghargaan tertanggal 19 Novmber 1969 yang diterima Basoeki Abdullah dari “The Household Grand Palace” di Bangkok.

Surat Penghargaan ini selain merupakan pengakuan, juga menjadi bukti betapa tingginya karya seni lukis dari pelukis Indonesia yang bernama Basoeki Abdullah ini.

Basoeki Abdullah juga pernah dalam tahun 1963 melukis keluarga pangeran Norodom Sihanouk di Kamboja. Dalam tahun 1968, Presiden Ferdinand Marcos dan Imelda Marcos berkunjung ke Istana Poporo dan Chitralada. Sewaktu melihat dan menikmati lukisan karya Basoeki Abdullah, Imelda Marcos tampak mengaguminya.

Dalam tahun 1977 Basoeki pergi ke Filipina untuk melukis Presiden Ferdinand Marcos dan Ny. Imelda Marcos. Dalam tahun 1983, Basoeki Abdullah juga melukis Sultan Bolkiah dari Brunei Darussalam dan permaisuri. Dia dijuluki sebagai “Mr. Twenty Minutes” oleh Sultan Bolkiah.

Dengan demikian, maka Basoeki Abdullah adalah pelukis Raja, Sultan maupun Presiden baik di Indonesia maupun beberapa Negara di Eropa dan Asia.

 

*Disadur dari Buku R. Basoeki Abdullah Sang Maestro, Solichin Salam.