Mendalami Seni Lukis Di Negeri Kincir Angin

Tidak menguasai ilmu eksak bukanlah berarti tidak pandai. Basoeki Abdullah membuktikannya dengan tekun melukis yang membawanya bersekolah di Negeri Belanda.

Semasa sekolah di H.I.S (setingkat SD di zaman Hindia Belanda), Basoeki Abdullah tidak tergolong murid yang pandai. Ia tidak memperhatikan pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Apalagi pelajaran berhitung (matematika), geografi (ilmu bumi) dan biologi (ilmu hayat). Ketiga pelajaran tersebut sangat tidak menarik baginya.

Sekembalinya dari bersemedi di Parang Tritis, dimana ia berdoa dengan caranya dan gayanya sendiri, Basoeki mohon petunjuk kepada sang Khalik, agar diberikan jalan untuk dapat menjadi seorang pelukis yang hebat.

Tiba-tiba dirumahnya ada pemberitahuan, bahwa ia memperoleh beasiswa untuk belajar ke negeri Belanda. Sudah barang tentu beasiswa tersebut diusahakan oleh misi Katolik, maklum Basoeki Abdullah adalah beragama Katolik. Apalagi waktu itu ia belajar di MULO Katolik Solo. Sudah barang tentu, guru-gurunya memperhatikan sang murid yang satu ini tidak maju pelajarannya. Akan tetapi bakat dan kegemarannya hanyalah menggambar atau melukis. Sebab itu ada baiknya bakat yang dimiliki sang murid ini perlu disalurkan dan mendapatkan tambahan pengetahuan serta pendidikan secara akademis. Semua itu berkat bantuan dari Romo Pastor Koch, S.J.

Dalam tahun 1933 Basoeki Abdullah bertolak ke negeri Belanda. Disana ia mengikuti pelajaran di “Koninklijke Academie Van Beeldende Kunsten” Den Haag. Pada watu itu Dr. Ir. Platinga, Direktur Akademi tersebut sangat menaruh perhatian pada seorang pribumi (Indonesia) yang bernama Basoeki. Meskipun resminya pelajaran tersebut selesai dalam waktu 5 tahun. Akan tetapi ia mampu menyelesaikannya hanya dalam waktu tiga tahun.

Seingat Basoeki, diantara guru-gurunya yang mengajar melukis ialah Hogewaard dan Meyer. Demikianlah keterangan yang pernah diberikan oleh Basoeki Abdullah kepada penulis.

Sekarang timbul pertanyaan. Apakah Basoeki Abdullah belajar di Akademi itu sebagai seorang mahasiswa penuh ataukah sekedar sebagai seorang mahasiswa pendengar? Jikalau ia sebagai mahasiswa penuh, bukankah pendidikannya hanya sampai di MULO Katolik Solo saja, dan belum pernah mengikuti pendidikan SLA. Mungkinkah ia memperoleh keistimewaan tertentu dari Akademi, meskipun tidak memenuhi persyaratan? Ataukah dia mengikuti semacam testing “Qoloquim doctum” bagi seorang calon mahasiswa yang tidak memenuhi persyaratan formal?

Ataukah ia mendapatkan dispensasi sebagai mahasiswa penuh karena pertimbangan “talenta” (bakat) yang luar biasa, seperti yang pernah dialami juga oleh Poerbatjaraka, meskipun ia hanya tamatan sekolah ongko loro, tapi karena dipandang berbakat dan mampu ia dapat dispensasi untuk kuliah di Universitas Leiden, dan ternyata ia berhasil menggondol gelar Doctor disana. Mungkinkah Basoeki Abdullah mengalami yang sama seperti Poerbatjaraka?

Jikalau tidak demikian, barangkali Basoeki Abdullah masuk ke Akademi tersebut, sekedar untuk memperoleh pelajaran dan pengetahuan sesuai dengan bakatnya, untuk bekal baginya agar dapat menjadi pelukis yang professional dengan dibekali teori-teori menggambar, pengetahuan anatomi dan lain sebagainya secara Akademi, tanpa ia mengikuti keseluruhan kuliah, dan akhir masa pelajarannya tanpa memperoleh diploma (ijazah) melainkan cukup hanya dengan verklaring (Surat Keterangan) saja?

Pertanyaan ini timbul dan sempat mengusik, mengingat diketemukannya sebuah verklaring atau Surat Keterangan dari Akademi tersebut tertanggal 5 November 1962, yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut :

Koninklijke Academie van Beeldenden Kunsten/Hogere Technische School

Ondergetekende, directeur van de Koninklijke Academie van Beeldende kunstentes Gravenhage, Verklaart hierbij, dat de heer R. Basoeki Abdullah van Januari 1935 tot Maart 1937 de lessen aan de Academie, afd tekenen, schilderen en boetseren, heft gevolgd.

‘s Gravenhage, 5 November 1962

J.J. Beljon

Directeur

(Yang bertanda tangan, direktur dari de Koninklijke Academie van Beeldende Kunsten di s Gravenhage, dengan ini menerangkan bahwa tuan R. Basoeki Abdullah terhitung sejak bulan Januari 1935 sampai bulan Maret 1937 telah mengikuti pelajaran di Akademi, bagian menggambar, melukis dan membuat patung.

‘s Gravenhage, 5 November 1962. ttd. J.J. Beljon, Direktur)

Dengan adanya Surat Keterangan tersebut diatas, besar kemungkinan Verklaring aslinya yang dibuat tahun 1937 hilang. Sehingga Basoeki terpaksa meminta salinan surat keterangan dalam tahun 1962.

Berdasarkan surat keterangan tersebut, menunjukkan bahwa Basoeki Abdullah mengikuti pelajaran di Akademi bukan 3 tahun, melainkan hanya 2 tahun lebih 2 bulan.

Bagi seorang seniman kaliber seperti Basoeki Abdullah, tidak memerlukan secarik kertas diploma ataupun gelar akademis. Sebab dari karya-karya serta prestasinya sudah lebih dari cukup sebagai bukti atas kemampuannya untuk melukis serta bobot keseniannya sudah mendapatkan pengakuan baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Sesudah dari Den Haag, Basoeki Abdullah mengikuti pelajaran semacam studi banding di Academy of Fine Arts di Paris dan Roma.

Di negeri Kincir Angin ini pula anak pribumi asal Solo, tahun 1937 dalam usia 22 tahun bertemu dan berkenalan kemudian jatuh cinta dengan seorang gadis Belanda, penjaga toko buku, bernama Josephine yang baru berumur 20 tahun. Akhirnya, keduanya menikah.

Betapa bahagianya anak pribumi yang sejak menginjak remaja sudah memimpikan kapan dapat kawin dengan noni Belanda. Sebagai seorang inlander, yang hidup dialam penjajahan, dapat mempersunting seorang gadis Belanda, Bangsa yang dipertuan dan menjajah Tanah Airnya, pasti mempunyai arti khusus dalam hati pemuda Basoeki Abdullah. Tapi ia mampu menggaet Noni Belanda di negeri Kincir Angin.

Perkawinan resmi diadakan di Gereja Katolik di Den Haag. Sesudah itu Basoeki Abdullah mengajak istrinya ke Indonesia dengan naik kapal laut melalui Medan, dari Medan dengan mengendarai mobil menuju Batavia (sekarang Jakarta). Setelah satu tahun menikah, kemudian lahir anak pertamanya pada tanggal 10 Januari 1938, di RS Boromeus di Bandung. Bayi putri ini diberi nama Saraswati. Dari Bandung, pindah ke Surabaya, Sukabumi dan kemudia di Jakarta. Sayang, perkawinan Basoeki Abdullah dengan Josephine tidak berlangsung lama. Karena bercerai, maka Saraswati ikut ibunya pindah ke Negeri Belanda. Kemudian Josephine menikah lagi dengan lelaki Belanda, Van der Myl, melahirkan dua anak : Dolly (perempuan) dan Roland (laki-laki). Josephine meninggal dunia tahun 1991, dalam usia 74 tahun di negeri Belanda.

Saraswati kawin dengan orang Belanda bernama Kouwenhoven, tapi tidak punya anak. “Yang saya ingat ketika kecil dulu, ayah paling marah jika saya merengek. Bisa membuyarkan konsentrasinya”, kenang Saraswati mengenai ayahnya semasa ia masih kecil. Dia jarang ketemu ayahnya, terakhir 2 tahun yang lalu sewaktu Basoeki ke negeri Belanda.”Ketika itu kami sempat berkunjung ke Jerman. Indah sekali saat itu”, katanya kepada Mingguan Wanita Indonesia.

Sebagai anak puteri yang dibesarkan dan hidup dialam Eropa yang serba bebas dan terbuka. Saraswati menilai ayahnya. “Ayah saya mata keranjang”. Mungkin ungkapan ini terdengar ditelinga orang timur, seperti Indonesia, apalagi Jawa, kedengarannya kurang sedap dan kurang sopan. Akan tetapi bagi orang Barat, keterbukaan itu adalah merupakan hak asasi setiap orang, yang dijamin oleh undang-undang.