Basoeki Abdullah & Sukarno

Basoeki Abdullah seperti perpanjangan tangan artistik Sukarno. Sebaliknya, Sukarno adalah kacamatanya untuk menerjemahkan Indonesia secara artistik. Keduanya, memiliki hubungan dinamis, sekali waktu saling mencari, suatu waktu saling cemburu, tentu karena perempuan. Mereka sama-sama penyuka perempuan cantik. Meski usia Basoeki terpaut empat belas tahun lebih muda di banding Sukarno, ia tak pernah kalah dalam melakukan pendekatan pada perempuan. Mungkin karena saat itu, profesi pelukis dan presiden bisa disejajarkan dan memiliki kebebasan (dan kekuasaan) dalam menggali.

Perkenalannya dengan Sukarno telah terjadi sejak sebelum Basoeki sekolah ke Belanda. Sebelum berkenalan, Basoeki telah mendengar nama besar Sukarno. Basoeki yang masih berusia 15 tahun sudah tergerak dengan pembelaan Sukarno, “Indonesia Menggugat”. Pembuangan Sukarnodi Ende hingga Bengkulu selalu menjadi perhatiannya, terbukti mereka sudah saling mengirim surat berbahasa Belanda pada tahun 1938/1939.

Perkenalan mereka menyebabkan berbagai hal lahir. Beberapa diantaranya adalah munculnya sejumlah lukisan potret Sukarno, yang nantinya amat penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia dan lahirnya sejumlah lukisan para istri Sukarno. Hal yang lain adalah kepedulian Sukarno pada seni, nyaris diwakili oleh selera artistik Basoeki Abdullah, yang akhirnya terimplementasi pada koleksi yang didisplay di Istana Presiden dan terisinya kitab koleksi Presiden Sukarno oleh lukisan-lukisan Basoeki Abdullah.